Beberapa hari yang lalu saya membaca buku tentang Soe Hoek Gie, buku tersebut berjudul "SOE HOEK-GIE ..sekali lagi buku, pesta, dan cinta di alam bangsanya". Kagum saya pada sosok seperti itu. Jarang dan susah sekali menemukan orang seperti tersebut. Cinta tanah airnya begitu tinggi, padahal dia adalah keturunan Cina, bahkan sering dipanggil Cina Kecil.
Perkenalan dengan sosok tersebut dimulai dengan perjalanan dia naik ke Gunung Semeru. Tempat yang diyakini oleh Gie adalah tempat untuk menambah rasa cinta tanah air dengan cara memahami sebuah alam yang indah dan mendekatkan diri dengan warga sekitar. Saya jadi ingat perjalanan naik ke Gunung Merbabu, bagi saya perjalanan naik ke gunung itu adalah seperti kita menjalani kehidupan ini. Hal yang ingin dicapai adalah sampai ke puncaknya, tapi setelah itu kita harus turun lagi. Hal itu melambangkan roda hidup kita selalu berputar. Kadang kita diatas dan kadang kita juga dibawah, kita harus siap dikedua posisi tersebut. Naik gunung juga memberi pesan bahwa kita tidak dapat hidup sendiri, kita butuh kerja sama dengan tim, ssttt.. stop dulu tentang naik gunungnya,,haha... kita lanjut dengan Gie.
Gie dan Idhan meninggal di gunung tertinggi di Pulau Jawa. Sebelum Gie meninggal, Gie sempat bercanda, bawa nih bunga ini dan berikan ke cewek2 di Jakarta. Ini seperti mengisyaratkan bahwa Gie gak akan pulang lagi. Dan ternyata memang benar teman, Gie berpulang di tempat tersebut.
Kekaguman saya pada Gie semakin besar saat terus membuka halaman-halaman buku tersebut, terutama semangat Gie. Gie menulis artikel yang membela kita di kamar yang berpenerangan redup dan banyak nyamuk. Gie juga menulis bisa sampai larut tengah malam, ya saat kita sedang tidur. Pribadi Gie yang selalu gelisah, selalu memikirkan rakyat benar-benar perlu ditiru. Oia, Gie juga suka pada lagu2 folk, lagu2 tentang perjuangan. Potongan lagu yang Gie suka adalah,"Nobody knows the trouble I've seen, Nobody knows mysorrow".
Gie yang berumur masih muda, 27 tahun, sangat kritis bahkan tak takut mati, hanya dia takut jika dia dibuat cacat. Karena akan menjadi beban untuk orang lain.
Hal yang menarik juga adalah kisah percintaannya Gie, hehehe, senyam senyum saya membaca bagian ini, bagian yang diceritakan oleh Kartini Syahrir. Namun, orang tua Kartini tidak setuju dengan Gie, setujunya sama temannya Gie, yang ternyata menjadi suami Kartini. Pokoknya rus baca bagian ini, hehe.
Dan yang terakhir dari buku ini adalah tulisan-tulisan Gie. Tulisan yang kritis, yang membela kaum-kaum yang malang. Gie itu peduli banget, jika membantu orang lain dia akan lakukan dengan sungguh-sungguh.
Keren den kamu Gie...
Semoga kamu hidup dipikiran kami-kami ini..
Kami yang sekarang adalah pelajar, dan dimasa yang akan datang menjadi pemimpin...
Mudah-mudahan menjadi pemimpin yang engkau harapkan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar