Saat ini pukul 17.18, saya sedang mantengin laptop, ingin tahu seberapa panjang aku bisa nulis. Hha, biasanya aku memang hanya bisa menulis beberapa paragraf pendek saja. Kali ini saya ingin membebaskan diri saya menulis semaunya. Walaupun hasil akhirnya akan tampak acak kadut. Pikiran saya memang sering lompat-lompat dengan tidak beraturan. Akibat lompatannya tidak beraturan, akhirnya terperosok ke dalam lubang sehingga tidak bisa lompat lagi. Perumpamaannya memang seperti itu, dengan kata lain saya sering tidak menyelesaikan tulisan yang saya buat. Tapi, kali ini saya benar-benar ingin membebaskan pikiran saya yang melompat-lompat itu.
Dikala saya sedang malas, saya biasanya mencari artikel yang memuat cerita motivasi, bisa berupa quote, note fb, blog, dan apa sajalah yang penting bisa membangkitkan motivasi. Dari salah satu blog yang saya kunjungi, saya membaca semacam curhatan hatinya. Dia bilang: "saya tidak biasa protes, tapi jangan salahkan saya karena saya tidak diajarkan untuk protes". Dia juga bilang: "saya tidak pintar mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, oleh karena itu saya menulis". Hal-hal tersebut terjadi juga pada saya, saya pun ingin mengatakan hal yang sama. Saya menjadi sedikit lega, ternyata tidak hanya saya yang mengalami hal serupa.
Ya benar, saya memang tidak diajarkan untuk protes, saya jarang mengkritik, saya selalu menerima apa pun yang diperintahkan. Mungkin watak ayah saya yang seorang polisi telah menurun dengan sukses kepada saya. Apapun itu akan menjadi command. Seperti Jin Aladin: "your wish is my command". Suka atau tidak suka, saya memang akan melakukannya. Oleh karenanya saya terbiasa melakukan hal yang tidak menyenangkan. Disisi lain, ini merupakan keuntungan bagiku, dengan ini saya tidak banyak mengeluh, tetapi hal ini tentu tetap berat dijalani. Bahkan saya mengakui, saya jarang tertawa.
Saya juga suka dengan kalimat: "...., oleh karena itu saya menulis". Ini semacam memberi kekuatan kepada saya, tulislah apapun yang menjadi kegalauan, kegalauan yang kamu rasakan saat ini akan kamu kenang ketika kamu bisa melewatinya. Saya pun merasa tidak perlu kuatir akan buruknya kualitas tulisan. Memangnya siapa yang peduli dengan tulisanmu? hhhe. Justru dengan semakin banyak menulis, semakin terasahlah jiwa menulismu. Apalagi kalau tulisanmu dikritik oleh seorang pembaca, wah itu akan menjadi kritikan yang membangun.
Benar saja, setelah saya bisa menulis keempat paragraf di atas, kegalauan saya ternyata hilang. Pada dasarnya saya memang senang berbicara, apalagi ketika mengajar mata pelajaran Fisika. Fisika bagi saya adalah oksigen kedua, bagaimana tidak, banyak filosofi hidup saya yang berasal dari rumusan fisika. Hhha, gak percaya? ini saya tunjukkan:
Rumus tekanan: P=F/A (hayoo, masih ingat tidak?)
P itu adalah tekanan hidup
F adalah beban hidup (gaya)
A adalah lapangnya hati
Jika beban hidup bertambah, lapangkanlah hati anda. Tentunya nilai tekanan hidup tidak akan bertambah. Apalagi jika kita mampu memperluas lapangnya hati kita. Nilai P itu akan semakin rendah.
Rumus tersebut sebagai contoh saja, lain kali akan saya berikan rumusan lain yang saya jadikan sebagai filosofi hidup, hhhe.
Tapi saya pun akan diam seribu bahasa ketika saya merasa tidak nyaman dengan kondisi tertentu. Dan inilah yang sering menjadi image saya, hhha. Ini merupakan sesuatu yang harus saya perbaiki. Ini pengaruh masa kecil juga. Sejak kelas 3 SD saya tinggal di asrama polisi yang cukup terisolir dari tetangga-tetangga. Oleh karenanya, saya tidak mempunyai banyak teman di sekitar tempat tinggal saya itu. Teman saya sebatas teman sekolah saja. Dan itupun rumahnya tidak dekat dengan saya. Lebih parah lagi, saya tidak leluasa menggunakan sepeda motor, karena penggunanya bukan hanya saya saja. Kakak saya yang lebih sering menggunakannya. Jadi kalau mau pergi kemana-mana mesti harus pinjam terlebih dahulu. Inilah yang membuat sosialisasi saya cukup rendah. Ujung-ujungnya menjadi pemalu. Tapi, it's ok, sosialisasi saya sudah semakin meningkat semenjak saya merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu.
Hmm jadi ingat dengan seseorang yang dulu pernah mengisi hati saya. Saya tidak punya pacar sampai kelas 3 SMA. Bukan karena saya tidak suka wanita, tapi karena saya memang pemalu. Saya tidak berani mengungkapkan perasaan. Saya ingat ada beberapa wanita yang pernah saya sukai, tapi itu sebatas suka saja. Tidak ada niatan saya untuk berpacaran. Lagi pula, saya memiliki prinsip untuk tidak memiliki pacar sampai tamat kuliah nanti. Tapi apa yang saya lakukan? di semester pertama saya sebagai mahasiswa, saya akhirnya mempunyai pacar. Dan kamu tahu? cewe yang menjadi pacar saya itu adalah adik angkatan SMP dan SMA saya yang saya pun pernah tidak menyukainya. Saya tidak menyukainya karena wajahnya itu putih banget dan bibirnya merah. Memang, banyak orang yang bilang dia cantik, tapi saya tetap tidak suka. Lalu kenapa saya mau dengannya? waktu itu saya benar-benar bodoh. Saya bisa menjadi pacarnya karena terlalu sering berkomunikasi lewat friendster dan sms (korban friendster, hhhe). Tetapi lama kelamaan, hati saya luluh juga, ternyata saya menyayanginya bukan karena fisiknya, melainkan dari lubuk hati yang terdalam, hhha mulai lebay. Tapi pembaca, disaat saya sudah menyanyanginya dan menerima apa pun kelebihan dan kelemahannya. Bahkan semua yang dia lakukan, baik atau buruk tetap akan menjadi baik di mataku. Oh tidak, ternyata saya sudah buta karena cinta. Puncaknya adalah ketika sesuatu yang saya anggap pengorbanan yang besar itu serasa tidak dianggapnya. Waktu dia ingin berpisah, saya langsung menyusul dari Yogyakarta ke Bandung disaat saya sedang ujian tengah semester. Gila, hal yang sangat berani, seseorang yang sangat memperhatikan pendidikannya rela meninggalkan ujiannya. Terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam rupanya saya waktu itu. Tapi apa, pengorbanan itu tidak ada artinya dimatanya.
Beribu-ribu syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT yang telah memisahkan saya darinya. Setelah itu, saya tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Tahun 2012 ini mungkin sudah tahun ke-3 saya berpisah darinya. Puji syukur, saya telah dikembalikan dari butanya cinta kepada manusia. Cinta yang paling besar itu seharusnya ditujukan kepada Alloh SWT.
Kini, saya pun berniat mencari pendamping kembali, bukan mencari pacar lho. Saya mencari istri saja. Saya memiliki kewajiban untuk mencarikan ibu yang baik untuk anak saya kelak. Saya ingin memiliki anak yang pintar dan sholeh. Anak-anak yang baik akan tumbuh dari lingkungan yang baik.
Ilmu agama saya masih sangat minim, saya ingin masuk ke pondok pesantren sebenarnya. Tapi apa mungkin ya dengan kondisi sekarang. Saya menyesal kenapa tidak masuk pesantren ketika saya masih kecil. Saya memang diberi pendidikan agama yang baik oleh orang tua saya. Sejak kecil saya sering mengaji di Mesjid dekat rumah saya. Bahkan orang tuaku pun mendatangkan guru ngaji tambahan ke rumah. Tetap saja merasa kurang. Ada semacam kerinduan untuk memahami apa yang saya yakini. Dan saya ingin memberikan teladan untuk keluarga saya nanti. Terutama anak saya. Hhhe.
Akhirnya saya pun harus menutup tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi saya khususnya.
25 Agustus 2012
My Childhood
Childhood is the time when someone is a child. When I was an eight year old, my parents and I moved to my mother's village. The reason why we moved was because my father no longer worked in Manonjaya City. I lived in my mother's village for a short time, it was about one year. But, many thing can be memorized until now. Marilyn Merger said in her books : childhood experiences influenced our cravings, then written into our DNA. It showed the importance of childhood experiences. I remembered, my mother's village had a lack of water. We collected water from river. The river can be achieved after we walked far from our home. Hha, and I still have many unforgettable experiences. I will continue it anytime :)
The Happiest Countries in the World
I watched TV for a couple of hours yesterday. The TV channel is Wide Shot in Metro TV. I recognized that Metro TV have many of beautiful presenters. Hhha, forget it, because the main topic now in my blog is about the happiest countries in the world. I got this data from Metro-TV first, and then I searched on the Internet, I found this Link (You can click on the text "this Link").
What your comment for this statistics?
Hha, I just want to go there!
What your comment for this statistics?
Hha, I just want to go there!
Wisuda S1
Akhirnya setelah berjibaku dalam medan perang di JTETI UGM, pada tanggal 22 Mei 2012, saya pun berhak menyandang gelar Sarjana Teknik setelah melalui acara wisuda. Sebentar lagi pada tanggal 28 Agustus 2012 akan diadakan wisuda untuk periode Agustus. Selamat kepada teman-teman yang sebentar lagi menyandang gelar S.T. Semoga ilmunya bermanfaat!
Constantly Craving
Constantly craving adalah judul sebuah buku karangan Marilyn Megers. Walaupun hanya membaca deskripsi singkat tentang buku ini, buku ini telah menarik minat saya untuk membacanya. Terdapat kalimat yang menurut saya bagus, berikut ini saya kutipkan:
We want more. More peace. More excitement. More romance. More free time. More chocolate....
Yaps betul, kita sebagai manusia selalu tidak pernah puas atas apa yang kita raih. Dahaga akan tetap terus menyelimuti diri kita. Pertanyaannya adalah kapan kita akan puas?
Saya pun belum bisa menjawab pertanyaan itu, bahkan saya belum tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Walaupun buku ini ditulis dalam sudut pandang non-Islam, tapi esensi dari buku itu bagus untuk membuka dan mengarahkan kita agar dapat mengejar apa yang benar-benar dicita-citakan.
Dalam deskripsi buku tersebut juga disebutkan bahwa:
Our cravings are written into our DNA. They’re influenced by our childhood experiences. They’re driving the choices we make as adults. And often, they’re keeping us hungry. Never satisfied. Ever searching.Setelah membaca deskripsi tersebut, saya tambah yakin bahwa kondisi masa kecil itu sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Setiap keputusan yang diambil pun mungkin saja terkait dengan kejadian masa lalunya. Semua rasa yang kosong pun, yang selalu ia cari sampai detik ini adalah karena masa lalunya.
Walaupun demikian, memang betul kita tidak perlu lagi menengok terlalu lama masa lalu, masa lalu hanyalah sesuatu yang sangat jauh, walaupun hanya 1 detik, tetap saja tidak akan pernah kembali. Masa depan yang lebih baik akan diperoleh jika kita melakukan yang terbaik pada saat ini.
to be continued....
Langganan:
Komentar (Atom)