Laman

25 Agustus 2012

Kisahku.....

Saat ini pukul 17.18, saya sedang mantengin laptop, ingin tahu seberapa panjang aku bisa nulis. Hha, biasanya aku memang hanya bisa menulis beberapa paragraf pendek saja. Kali ini saya ingin membebaskan diri saya menulis semaunya. Walaupun hasil akhirnya akan tampak acak kadut. Pikiran saya memang sering lompat-lompat dengan tidak beraturan. Akibat lompatannya tidak beraturan, akhirnya terperosok ke dalam lubang sehingga tidak bisa lompat lagi. Perumpamaannya memang seperti itu, dengan kata lain saya sering tidak menyelesaikan tulisan yang saya buat. Tapi, kali ini saya benar-benar ingin membebaskan pikiran saya yang melompat-lompat itu.

Dikala saya sedang malas, saya biasanya mencari artikel yang memuat cerita motivasi, bisa berupa quote, note fb, blog, dan apa sajalah yang penting bisa membangkitkan motivasi. Dari salah satu blog yang saya kunjungi, saya membaca semacam curhatan hatinya. Dia bilang: "saya tidak biasa protes, tapi jangan salahkan saya karena saya tidak diajarkan untuk protes". Dia juga bilang: "saya tidak pintar mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, oleh karena itu saya menulis". Hal-hal tersebut terjadi juga pada saya, saya pun ingin mengatakan hal yang sama. Saya menjadi sedikit lega, ternyata tidak hanya saya yang mengalami hal serupa.

Ya benar, saya memang tidak diajarkan untuk protes, saya jarang mengkritik, saya selalu menerima apa pun yang diperintahkan. Mungkin watak ayah saya yang seorang polisi telah menurun dengan sukses kepada saya. Apapun itu akan menjadi command. Seperti Jin Aladin: "your wish is my command". Suka atau tidak suka, saya memang akan melakukannya. Oleh karenanya saya terbiasa melakukan hal yang tidak menyenangkan. Disisi lain, ini merupakan keuntungan bagiku, dengan ini saya tidak banyak mengeluh, tetapi hal ini tentu tetap berat dijalani. Bahkan saya mengakui, saya jarang tertawa.

Saya juga suka dengan kalimat: "...., oleh karena itu saya menulis". Ini semacam memberi kekuatan kepada saya, tulislah apapun yang menjadi kegalauan, kegalauan yang kamu rasakan saat ini akan kamu kenang ketika kamu bisa melewatinya. Saya pun merasa tidak perlu kuatir akan buruknya kualitas tulisan. Memangnya siapa yang peduli dengan tulisanmu? hhhe. Justru dengan semakin banyak menulis, semakin terasahlah jiwa menulismu. Apalagi kalau tulisanmu dikritik oleh seorang pembaca, wah itu akan menjadi kritikan yang membangun.

Benar saja, setelah saya bisa menulis keempat paragraf di atas, kegalauan saya ternyata hilang. Pada dasarnya saya memang senang berbicara, apalagi ketika mengajar mata pelajaran Fisika. Fisika bagi saya adalah oksigen kedua, bagaimana tidak, banyak filosofi hidup saya yang berasal dari rumusan fisika. Hhha, gak percaya? ini saya tunjukkan:

Rumus tekanan: P=F/A (hayoo, masih ingat tidak?)
P itu adalah tekanan hidup
F adalah beban hidup (gaya)
A adalah lapangnya hati

Jika beban hidup bertambah, lapangkanlah hati anda. Tentunya nilai tekanan hidup tidak akan bertambah. Apalagi jika kita mampu memperluas lapangnya hati kita. Nilai P itu akan semakin rendah.

Rumus tersebut sebagai contoh saja, lain kali akan saya berikan rumusan lain yang saya jadikan sebagai filosofi hidup, hhhe.

Tapi saya pun akan diam seribu bahasa ketika saya merasa tidak nyaman dengan kondisi tertentu. Dan inilah yang sering menjadi image saya, hhha. Ini merupakan sesuatu yang harus saya perbaiki. Ini pengaruh masa kecil juga. Sejak kelas 3 SD saya tinggal di asrama polisi yang cukup terisolir dari tetangga-tetangga. Oleh karenanya, saya tidak mempunyai banyak teman di sekitar tempat tinggal saya itu. Teman saya sebatas teman sekolah saja. Dan itupun rumahnya tidak dekat dengan saya. Lebih parah lagi, saya tidak leluasa menggunakan sepeda motor, karena penggunanya bukan hanya saya saja. Kakak saya yang lebih sering menggunakannya. Jadi kalau mau pergi kemana-mana mesti harus pinjam terlebih dahulu. Inilah yang membuat sosialisasi saya cukup rendah. Ujung-ujungnya menjadi pemalu. Tapi, it's ok, sosialisasi saya sudah semakin meningkat semenjak saya merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu.

Hmm jadi ingat dengan seseorang yang dulu pernah mengisi hati saya. Saya tidak punya pacar sampai kelas 3 SMA. Bukan karena saya tidak suka wanita, tapi karena saya memang pemalu. Saya tidak berani mengungkapkan perasaan. Saya ingat ada beberapa wanita yang pernah saya sukai, tapi itu sebatas suka saja. Tidak ada niatan saya untuk berpacaran. Lagi pula, saya memiliki prinsip untuk tidak memiliki pacar sampai tamat kuliah nanti. Tapi apa yang saya lakukan? di semester pertama saya sebagai mahasiswa, saya akhirnya mempunyai pacar. Dan kamu tahu? cewe yang menjadi pacar saya itu adalah adik angkatan SMP dan SMA saya yang saya pun pernah tidak menyukainya. Saya tidak menyukainya karena wajahnya itu putih  banget dan bibirnya merah. Memang, banyak orang yang bilang dia cantik, tapi saya tetap tidak suka. Lalu kenapa saya mau dengannya? waktu itu saya benar-benar bodoh. Saya bisa menjadi pacarnya karena terlalu sering berkomunikasi lewat friendster dan sms (korban friendster, hhhe). Tetapi lama kelamaan, hati saya luluh juga, ternyata saya menyayanginya bukan karena fisiknya, melainkan dari lubuk hati yang terdalam, hhha mulai lebay. Tapi pembaca, disaat saya sudah menyanyanginya dan menerima apa pun kelebihan dan kelemahannya. Bahkan semua yang dia lakukan, baik atau buruk tetap akan menjadi baik di mataku. Oh tidak, ternyata saya sudah buta karena cinta. Puncaknya adalah ketika sesuatu yang saya anggap pengorbanan yang besar itu serasa tidak dianggapnya. Waktu dia ingin berpisah, saya langsung menyusul dari Yogyakarta ke Bandung disaat saya sedang ujian tengah semester. Gila, hal yang sangat berani, seseorang yang sangat memperhatikan pendidikannya rela meninggalkan ujiannya. Terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam rupanya saya waktu itu. Tapi apa, pengorbanan itu tidak ada artinya dimatanya.

Beribu-ribu syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT yang telah memisahkan saya darinya. Setelah itu, saya tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Tahun 2012 ini mungkin sudah tahun ke-3 saya berpisah darinya. Puji syukur, saya telah dikembalikan dari butanya cinta kepada manusia. Cinta yang paling besar itu seharusnya ditujukan kepada Alloh SWT.

Kini, saya pun berniat mencari pendamping kembali, bukan mencari pacar lho. Saya mencari istri saja. Saya memiliki kewajiban untuk mencarikan ibu yang baik untuk anak saya kelak. Saya ingin memiliki anak yang pintar dan sholeh. Anak-anak yang baik akan tumbuh dari lingkungan yang baik.

Ilmu agama saya masih sangat minim, saya ingin masuk ke pondok pesantren sebenarnya. Tapi apa mungkin ya dengan kondisi sekarang. Saya menyesal kenapa tidak masuk pesantren ketika saya masih kecil. Saya memang diberi pendidikan agama yang baik oleh orang tua saya. Sejak kecil saya sering mengaji di Mesjid dekat rumah saya. Bahkan orang tuaku pun mendatangkan guru ngaji tambahan ke rumah. Tetap saja merasa kurang. Ada semacam kerinduan untuk memahami apa yang saya yakini. Dan saya ingin memberikan teladan untuk keluarga saya nanti. Terutama anak saya. Hhhe.

Akhirnya saya pun harus menutup tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi saya khususnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar